ayeuna tabuh

Tampilkan postingan dengan label aku dan ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku dan ceritaku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2015

Belajar itu mengapa tidak



Hari senin terdapat senja yang indah di langit Jatinangor. Ada temaram membias pada tiang dan pohonan. Juga pada ke-sok-an kita yang ingin mencoba menafsirkan sebuah sajak. Melaju menjemput magrib. Dengan robusta dan secarik kertas. Di lesehan alam. Tempat kita memulai, meski sangat jauh berbeda dengan orang lain yang begitu lihai dalam menelaah. Tapi matahari tetaplah sama ; menyinari kalian dan kita.Saat duduk, fokus mata kita tertuju pada sajak karya Teddi Muhtadin. Seorang kritikus sastra sekaligus sastrawan yang kami mengenalnya dia adalah sosok yang romantis. Romantis pada tatapannya tentang kehidupan. 

Perjalanan 

Setelah pangalengan 
Katamu
Kita hanya pelancong
Memandang warna warni
Lantas lena
Disaput kabut
Kubilang tidak
Sebab ada
Hijau nafas teh dan rumputan
Mengendap
Di benak usia kita 

(Sajak di atas merupakan sajak pertama dari kumpulan sajak yang diberi judul “Kampung Halaman”).

Setelah Agung membacakan sajak itu dengan sedikit hati-hati. Kemudian aku menyuruh kawanku menikmati baris perbaris. Kemudian kita harus berbagi rasa. Karena kita mencicipi dengan bumbu yang berbeda.“Jangan takut menafsirkan sebuah karya. Tak ada benar dan tak ada salah. Karena kita sedang belajar. Sekali lagi, kita hanya kita yang ingin belajar. Tak apa jauh dari ungkapan sebenarnya. Karena hanya Teddi sendiri yang tahu apa yang ia sajikan”. 

Kemudian Anton memulai. Dia berkata bahwa menurutnya Sajak ini adalah tentang sebuah keberanian. “Ini menceritakan tentang seorang tinggal di Pangalengan yang pada saat itu masih indah. Tetapi setelah sekian lama ia melancong dan kembali ke Pangalengan. Terlihat ada yang berbeda, sangat berbeda. Namun ia tidak takut. Karena pengalaman (hijau nafas teh dan rumputan) tak akan hilang dan akan terus menemani (mengendap pada usia kita)”.

Wow tafsiran yang sangat bagus dari anton. Disambut senyum kawan sambil menyodorkan kopi. Kemudian Asep Tating sudah siap sambil berkata “aku mau menafsirkan, Kang”. Lalu semua terfokus pada matanya. “Menurut saya, sajak ini menceritakan tentang seorang yang pernah singgah di Pangalengan, indah dan sangat indah (memandang warna-warni). Sayangnya, disisa umur, ia tidak bisa berkunjung lagi. Akan tetapi ia masih bisa membayangkan bagaimana indahnya tempat itu yang kini jadi kenangan (sebab ada hijau nafas teh dan rumputan mengendap di benak usia kita). Semua tertegun dan kemudian tersenyum tanda kagun akan penafsirannga. Good, Ting!

Sebelum Uwes mengacungkan tangannya. Saya sedikit berkata ; “sajak itu bisa ditafsirkan langsung menurut diksi yang ada. Ada pula yang bermuatan majas atau penganalogian yang secara tidak langsung penulis bisa saja menyampaikan beberapa pesan lewat kata yang berkaitan, atau analogi lainnya yang intinya membuat pembaca agar mendalami, tidak ‘stak’ pada diksi. Jadi boleh diungkapkan dengan hal lain. Menurut sayaaa itu juga. Tapi entah benar atau salah menurut para ahli. Yang penting mencoba, betul?” Ucap saya disambut tawa.

Kemudian Uwes berbagi tafsirannya. “Gini Kang. Kata Uwes mah ini teh tentang perjalanan hidup kita (penulis) ketika muda yang mengalami masa susah dan masa-masa senang. Nah, di sisa umur (tua), ia ingin mengalami masa-masa tersebut. Akan tetapi mengenangnya hanya lewat impian (harapan). Dan tinggal kenangan”. Semua terangguk-angguk tanda mengerti dan mengiyakan. “Bener juga nya” kata Tating sambil menggaruk kepalanya. Kopi tinggal setengah. Senja pun siap disapu malam. Tapi mentari masih nampak ubun- ubunnya.

Agung-pun berbagi rasa. “Jika dianalogikan, mungkin “pangalengan” disini sebagai “dunia”. Dan kita hanyalah pelancong yang telah melihat banyaknya “warna-warni” hidup. Semua hilang setelah kita meninggalkan dunia itu (disaput kabut). “Kubilang tidak”. Keindahan yang sesungguhnya akan ada di akhirat kelak”.

Waw. Lezat sekali resep dari Agung. Semua tersenyum dan tertawa. Kemudian kita semua mendiskusikan lagi sajak itu. Baris perbaris. Tentang analogi, atau sudut pandang, atau semiotik, atau struktur. (TAPI JUJUR KAMI SEMUA BELUM MENGETAHUI APA SAJA YANG HARUS DIKAJI DALAM PUISI. KAMI HANYA BERMODAL KEINGINAN MENGKAJI). Dan kita semua tertawa, tertegun, terangguk dan termenung.

Setelah cahaya matahari hampir dilahap gelap. Aku sedikit menafsirkan tentang sajak ini. Yang aku rasakan ketika membaca sajak ini begitu motivatif. Sajak “Perjalanan” ini adalah menggambarkan kita sebagai mahasiswa yang sedang melakukan perjalanan. “Pangalengan” aku analogikan sebagai kampus. “Kita hanya pelancong” itu adalah kita, mahasiswa yang sedang berpetualang dalam dunia kampus yang sudah menerawang jauh bahwa segala pekerjaan “memandang warna-warni” itu bisa diraih dengan selembar ijazah dan memang kita “lantas lena disaput kabut” terlena oleh selembar harapan tersebut. Tapi penulis berkata. “Kubilang tidak”. Hey tidak. Bukan. Tidak hanya ijazah! “Sebab ada hijau nafas teh dan rumputan” sebab banyak skill dan pengalaman dan kekreatifan kita “mengendap di benak usia kita” yang masih menempel dan setia terasah diusia kita. Kita itu MAHA. Perbanyaklah pengalaman dan kekreatifan juga hal lainnya seperti yang disajikan oleh “teh dan rumputan”. Dan perjalanan-pun akan terasa indah jika kita banyak membawa bekal. Karena melancong, tak hanya menatap rupa warna. Tapi, menikmati betapa udara itu setia membelai otak kita.

Kemudian magrib datang dengan adzan berkumandang. Semoga, kajian ini bisa terus mengakar dan bahkan menjadi rimbun. Bangunlah siklus yang setidaknya membawa bekal, kawan. Kalian adalah orang yang akan membawa perubahan. Bangunlah. Semangat.
Bandung 05 Februari 2015

Sabtu, 27 Desember 2014

Mulailah

Pada penghujan ini
Lebih banyak kuluangkan waktu
Duduk berdiam diri
Pada fokus nalarku
Dan gerayam jemariku

Bagai langit dan bumi
Aku bukanlah ahli
Lebih jelasnya, aku
Tak seperti yang lain
Dimana kata
Bak nafas
Begitu mudah keluar masuk setiap membayang

Tapi aku hanya
Terus mencoba membaca
Dalam tumpukan buku
Pada tatapan mata memandang

Bolèhkah aku mencoba?
Tentu saja
Karena mungkin
Titik awal adalah saat kemudahan ucap
dan indahnya harap
Terbungkam oléh gerak

Cicaléngka 27 Dèsèmber 2014

Sabtu, 20 Desember 2014

Adalah Kata

Adalah kata
Yang membuat kita
Lebih luas memandang
Coba bayangkan
Saat membaca kata "cinta"
Nalarku menjelma Ibu, Ayah dan dia.
Tuan dan nona boléh bertafsir
Tuan melihat nona sebagai cinta
Sedang nona, memandang tuan
Atau ada yang melihat sebagai warna ;
Mérah, biru, ping, putih
Banyak juga menjelma hati
Atau keluarga, dunia, iPhone, path, matanya, ilahi, mantan, musik, corél, kopi, cerutu, montok, lesung pipi, puisi
Ya. Itulah kata
Liar bersama pikiranmu
Menari bébas bersama khayalmu

Cicaléngka 20 Désémber 2014

Senin, 15 Desember 2014

Desember Pagi Hari

Desember pagi hari selalu terasa suci
Setelah malam bumi dimandikan hujan
Fajar menjelang dengan embun-embun riang
Berlompat dari ujung daun
Oh Tuhan kau begitu romantis
Saat kabut perlahan hilang dalam terang
harum bunga rekah kian memanja pada setiap nafas
Burung-burung dengan merdu riang bernyanyi
Menikmati mentari yang perlahan membelai
Begitupun angin bersiul berbisik ; Bersyukurlah
Ini adalah bentuk penghambaan bumi pada Ilahi
Juga adalah kenangan bahwa manusia pernah menjadi pagi hari ;
Suci, bersih, indah

Semacam Susah Tidur

Pukul satu dini hari
Kelopak mataku masih terbuka ; entah apa yang kupikirkan
Saat mata kuarahkan pada sudut tembok
Lenyap ingatanku pada masa remaja ; berkumpul merangkul labil
Kemudian segera kupalingkan menuju kaca jendela
Datang senyummu membias retina ; terlalu melankolis rupanya
Aku mencoba tidur, kepejamkan mataku paksa
Namun Ayah yang muncul pada gemerlap cahaya
Seperti ingin menyapaku
Pukul satu lebih ; aku masih terjaga
Aku berdoa ; pengantar tidur
Namun cicak itu membuatku mengikuti iramanya
Sementara bising ditelingaku terus diserap khayalan
Aku benci fajar yang hening sementara aku masih terjaga

Cicaléngka - Selasa 16 Désémber Pukul 01:15 Wib

Sabtu, 29 November 2014

Seperti dualisme do'a. Bukan multifungsi do'a.

Aku tersadar bahwa keinginanku sangat kontradiktif.
Coba tuan dan nyonya bayangkan.
Selesai bersimpuh aku berpanjat doa dan sangat percaya bahwa Allah pemberi rezeki.
Aku harus selalu bersyukur atas semua rezeki yang Ia beri.
Juga aku percaya bahwa jodoh ditangan Allah. Juga percaya bahwa setiap masalah yang sedang kulalui pasti ada jalan keluarnya. Juga percaya bahwa jika bersodakoh Allah akan melipatgandakan. Juga percaya pahala yang terus mengalir adalah sodakoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do'a anak soleh. Juga meminta dimudahkan dalam segala urusan, dimudahkan dalam mencari rezeki, dilancarkan dalam bab hutang piutang. Atau semoga skripsiku dipermudah. Bahkan dilancarkan dalam mencari pekerjaan juga disukseskan dalam berwirausaha. Atau setidaknya dimudahkan orderan agar aku bisa menafkhi keluargaku. Akupun berdoa agar sakit pinggang atau pusing ini hilang. Tak luput pula berpanjat agar kesehatan terus membalutku agar aku esok bisa kembali berkumpul bersama kawan, keluarga atau agar aku tetap bisa bercocok tanam bahkan memberi makan ternak peliharaan agar pembeli semakin banyak. Bahkan berdoa agar ia bahagia dengan yang lain atau mudahkanlah move on ini atau lindungi dari preman pemalak alun-alun juga jauhkan dari orang jahat. Oh ya aku juga berdoa untuk kesembuhan si Wawa kucing kesayanganku yang akhir-akhir ini didera penyakit radang tenggorokan karena dia jarang minum. Atau aku berdoa supaya bisa bertemu dengan idolaku. Atau berdoa bersama santri agar aku terpilih menjadi pemimpin yang mengikuti aturanmu. Bahkan aku memohon kelancaran untuk acara pertunjukan musik esok hari. Aku percaya akan wahyu Allah yang tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hambanya (yang lemah yang hanya meminta dan terus meminta).

Sementara.

Balada air mata riuh disana adalah untuk menyelamatkan atas semua keyakinanku diatas. Nampaknya do'a dan perjuangan orang sana lebih pada titik penyerahan jiwa agar aku bisa tetap berdo'a pada masjid-masjid yang masih banyak berdiri kokoh di Nusantara ini. Mereka berdo'a sampai mengeluarkan darah. Dan berdiri membela kesucian agar agama yang selama ini selalu kupanjatkan tetap berlangsung dalam keramaian. Tak seperti mereka yang jika berdoa memohon agar panji kita tetap berkibar. Selaksa doa terpanjat untuk keesaanMu. Untuk tetap tegaknya agama yang aku yakini dan jalani hanya untuk berdoa. Mereka berdoa di balik puing bekas rudal. Mereka berdoa diantara selongsong peluru juga genangan darah. Mereka berdoa agar aku tetap bisa berpanjat kepadamu secara terbuka. Tak ada tekanan bahkan penghancuran. Mereka berdoa sambil memegang senjata karena jika mereka semua berhenti berdoa dan seperti aku. Hanya meminta disehatkan dimudahkan jodoh atau disukseskan dalam presentasi. Mungkinkah esok lusa aku juga tiada? Karena aku yakin keyakinan kita diambang tekanan ; pemusnahan. Aku tak tahu apa dasar mereka yang aku sadari kenapa aku hanya berpanjat memikirkan kenikmatanku?

Hanya sedikit berkhayal apakah doa hanya sebatas proposal pengobral pribadi masing-masing sementara wadah do'a kita diambang kehancuran.
Atau mungkin memang doa dan kepercayaan adalah urusan masing-masing tak perlu ada yang tahu apa yang menjadi pijakan kita yang penting kita terus berdoa agar kita bisa dimasukan kedalam jannah yang indah?
Sementara perjuangan kita dalam membela apa kita yakini dan kita nikmati untuk berdoa selama ini hanya sebatas landasan pribadi?

Allah. Kualitasku memang jauh dan hina. Sangat hina. Karena tidak harmoninya diri.
Engkau pasti tahu saat kesaksianku hanya sebatas ucapan. Solatpun hanya sebatas gerakan. Shaum hanya sebatas kewajiban. Haji hanya sebatas kebanggan. Ya saat itu pula aku memang sia-sia.
Saat islamku sebatas pakaian.
Saat imanku sebatas ucapan.
Saat ihsanku sebatas pengetahuan.
Saat itu pula. Aku menipu diri.

Tapi aku merasakan, tuhan.
Batas kemampuanku hanya sebatas meminta. Memohon dan berharap. Apa yang harus aku lakukan agar aku tidak sehina ini? Tapi aku yakin juga. Bahwa hakikat manusia adalah untuk menyembah dan meminta pertolongan kepadamu. Tapi tolong, tuhan. Taburilah pupuk kesadaran kepadaku bahwa agamaku harus dibela atas penindasan dan penistaan juga pembantaian berdalih teror dan penyetakan umum. Aku yakin engkau memberi kami relung yang halus dimana keinginan untuk membela ; sudah menjadi fitrah kami. Semoga, semoga, semoga. Dan aku berdoa agar kekacauan sekarang ini bisa semakin menghaluskan relung kami.
Setidaknya aku bisa membela bahwa janganlah kau rusak kearifan agamaku. Setidaknya begitu ; membela.
Semoga.

Cicalengka. 29 November 2014

Rabu, 26 November 2014

Mewah

Akhir november
kebetulan langit sedang tidak sendu
dan kebetulan bias lampu remang
seperti membasuh kami
tak perlu tempat mahal
Karena, kau tahu
dibawah langit ini
ada hal yang teramat mewah
yaitu raga kalian
melebihi mewahnya tablet tujuh inchi
juga megahnya langkah satpam

Ah sudahlah
mewah adalah bersama
meski berbeda

Jatinangor - brooklyn 26 November 2014

*barusan ada orang yang kehilangan tablet tujuh inchi. Dia bersama satpam mendatangi kami. Sayangnya. Waktu hilangnya saat kami belum datang.

Selasa, 25 November 2014

Hanya imajinasi - fiksi

Aku lebih melihat ilmu bak mayat-mayat yang tergeletak
Kau tahu ? Karena diskusi dibungkam hedon
Dan buku tak ada yang dikaji
Tak ada kopi di pagi hari
Tak ada senja yang berpuisi
Oh Sastra.. Imajinasi fiksi..

Kata hanya sebatas kata
Kerongkongan kau sumbat nilai
Tak kutemui bait-bait
Kau takuti kami dengan C, D, E, C, D, E
Sehingga senja tak kunjung datang
Disini tak akan muncul
Sapardi baru
Goenawan Muhammad baru
Rendra-Rendra kecil
Ahmad Tohari mungil
Atau kau anggap kami robot akademik

Datang - Duduk - Pulang
Datang - Duduk - Pulang

Ah padahal kau itu tunas
Jadilah kata yang mengakar
Pada setiap gerak
Jika kau memandang adalah struktur
Dan jika kau tertunduk
Sebuah sajak telah tersaji
Atau jika kau lelah
Bukumu bisa kau berikan pada Dosenmu untuk dibenahi
Ah ini hanya fiksi

Tapi, ingat kata Ibu Guru
Jangan lupa baca buku !




















Bandung 25 November - Senjahari

Minggu, 23 November 2014

Pengungkapan Sederhana

Hakikatnya bersastra adalah penyampaian ungkapan hati/ perasaan. Pengungkapan perasaan tidak perlu ruwet atau harus terlihat "wah".
Justru jikalau dengan sederhana bisa mewakili perasaan kita. Disitulah estetika sastra telah tersaji (Maziya : 2014. 2246).
Akan tetapi alat dalam mengungkapkan itu banyak. Lisan, tulisan, canvas bahkan alat musik. Seperti puisi, lukisan, teater, monolog, instrument dsb (dan saya bingung). Maka tidak sedikit orang yang mengungkapkannya dengan berbagai media tersebut. Dan inilah yang disebut ragam sastra (Maziya : 2014. 234).
Jadi ungkapkanlah perasaanmu dengan lisan atau tulisan atau alat lain. Tak perlu berpusing diri memilih diksi diksi frustasi. Tapi jadilah air yang mengalir. Karena dengan sederhana, pengungkapannya akan terasa. Tak menjadi gagu. Boleh dengan lisan, tulisan atau pengekspresian yang lain.
"Sederhana itu indah. Sama halnya melihat matamu"
"Sederhana itu indah. Sama halnya mendengar suaramu"
"Sederhana itu indah. Sama halnya dengan membayangkanmu"
"Sederhana itu karunia yang terasingkan"

Maaf jikalau jauh dari kebenaran dan ngaco. Saya waktu kuliah dapat nilai Cukup. hihihihi. Bahkan konsentrasi saya linguistik. Juga dapat nilai Cucho hehehehe. Juga sedang jenuh menunggu makanan yang tak kunjung datang .
Marilah kawan.

Bogor - 23 Nobember 2014.

Anjing Manusia

Apa jadinya jika anjing berupa manusia
Ia berkata dengan matanya yang merah
Dengan amarah dan nada angkuh
Penuh benci
Rasa halus mati
Seakan semua hal yang dihadapinya adalah segumpal dagin segar
Yang siap disantap dengan taring yang berliur
Dengan naluri rakus
Ah anjing kau
Kukira kau manusia
Namun logika selalu kau resapi dengan nafsu
Pembenaran-pembenaran atas dasar emosi
Anjing Asu Djancok !

Bogor - 23 November 2014

Senin, 17 November 2014

Blusukan Perasaan

Inilah mengkultuskan seseorang secara berlebihan
Nurani kita mati !
Nalar kita terbungkus buta-nya hati
Sabdanya selalu benar tanpa mendengar rintihan Galang kekurangan gizi
Memang bukan masalah nominal
Tapi masalah ini masalah keimanan
Katanya 
Sayang sekali Mbak Yu. Air matamu harganya duaribu
Jangan menangis
Teruslah berusaha
Pak Asep. Ma Edah. Mpo Ijem. Mbak Pinggit ; gak usah khawatir.
Toh cuma naik duaribu ini
Jangan mengemis ya
Meski ada kartu gratis
Jangan menjadi pragmatis
Jangan merasa diladeni
Sebenarnya kau sedang dibuat malas
Itulah #MentalTempe
Semangat Ibu-ibu Bapak-bapak bekerjanya
Yang penting kita bersyukur
Ya, terus bersyukur
Aku sebenarnya tak ingin peduli
Tapi jika ada toleransi beragama
Mengapa tidak ada toleransi perasaan
Manusia seolah angkat tangan
Pada hati yang harusnya berbagi
Jangan baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu !


Senin, 10 November 2014

Akulah-Hujan

Akulah hujan
Kepada siapa aku harus bersimpuh
Saat tanah terkubur beton megah

Akulah gemercik air
Jika dulu kedatanganku kau sambut rindu
Kini kau hanya diam membatu

Akulah air mengalir
Kepada siapa aku harus bercerita
Disaat akar mati tak lagi mendengar
Hanya pondasi dan paku-bumi yang angkuh, menyuruhku ;
PERGI !

Akulah hujan
Kemanakah aku harus berlari
Disaat sampah-sampah merajai bumi

Akulah hujan
Kini kedatanganku kau anggap bencana
Melebihi beton dan gergaji mesin
Kini kedatanganku kau anggap derita
Melebihi sampah dan polusi
Kini kehadiranku tak diberi tempat lagi
Hingga suatu saat kau akan mengerti.


Bandung 10 November 2014

Sabtu, 08 November 2014

Ia Tak Berdosa !

Hujan tak berdosa !
Jangan kau anggap bencana
Bagiku hujan adalah sebuah proyektor
Alat yang mempertontonkan ; apakah tanah masih kau syukuri ; apakah pohon masih lestari ; apakah alam masih kau nikmati ;  oh ya. Apakah kau masih membuang sampah sembarangan ?
Mari kita melihat pertunjukan alam.
Enam bulan kedepan loh.
Bahkan lebih

Semoga proyektornya tidak kau caci
Kalau bisa ; intropeksi
Boleh juga seduh kopi
Lebih bagus bikin puisi
Pake gaya murwakanti
Hihihihi

Cicalengka. 08 November (rain) 2014.
Awal-awal musim hujan.

Jumat, 07 November 2014

Akhirnya :') #PERSIBJUARA

Alhamdulillah.
Dalam euforia ini.
Aku baru ingat, Tuhan.
Bahwa engkau menciptakan kata "dramatisir".
Dan aku merasakannya. Sungguh membuat hatiku bagai buih.
Terimakasih atas surpriseMu.
Aku, malam, dan PERSIB.

#PERSIBJUARA

Cicalengka 07-11-2014


Berjuanglah MAUNG BANDUNG

Tuhan.
Aku yakin.
Engkau sedang menguji kami dengan kesabaran.
Tapi hatiku. Yang kau ciptakan.
Terlalu halus untuk mengeluh.
Maka aku akan tetap bersyukur dan terus berdoa.
Di malam ini.
Setelah hujan.
Disaat PERSIB bertanding.
Semoga. Engkau memberi kami surprise.
Karena aku mengenal kalimat indahMu.
"Man shabara dhafiro"
Aku yakin itu, Tuhan.

Cicalengka 07-11-2014
Menjelang babak kedua final Indonesia Superleague PERSIPURA vs #PERSIB

Malam nanti. Penantian 19 Tahun. #PERSIB

Hujan..
Aku tak peduli apa masalahmu.
Entah kau sedang marah, gelisah atau dilanda rindu.
Teruslah menangis.
Asal kau tau.
Magrib nanti kau harus berhenti.
Entah kau menyisakan sedikit risau.
Lebih baik kau meninggalkan harummu yang sejuk, segar. Aku suka kamu pada saat itu.
Oh ya. Setelah magrib kau harus sudah berhenti. Aku ingin keluar. Menikmati kota Cicalengka yang masih tentram.
Aku ingin berkumpul dengan orang-orang.
Entah siapa saja.
Aku hanya ingin melihat pertandingan PERSIB tanpa gemuruhmu. Itu saja.
Karena itu bagian dari perasaanku juga.
Teruslah menangis, hujan.

Cicalengka 07-11-2014


Jumaah Barokah. Final Indonesia Super League - Lampah Maung

Ya Allah.
Jumaah barokah. Pon kitu ogé paparin kabarokahan kanggé urang Jabar anu nuju aya di Palémbang.
Paparin kasaéan kanggé sadayana.
Ya Allah.
Mugia, Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung. Tiasa janten pinunjul.
Sabada sababara hal "peurih" dibalurkeun ka arurang (Dilicikan, didenda, sanksi, dibalédogan, ditijek ku PSSI), kuring yakin. Aya "peurah" anu bakal bisa diasaan ku PERSIB jeung BOBOTOH. Sabab éta paribasa téh geus luyu jeung naon anu kajantenan. "Peurih jadi peurah".
Ya Allah.
Sanésna kuring fanatis. Tapi anjeun maparin kuring haté anu tangtu fungsina keur nyaahan jeung deudeuhan. Salah sawiosna ka PERSIB salaku kleub anu dipikareueus.
Ya Allah.
Neda dihapunten kanggé PSSI. Pamugi Anjeun maparin kasadaran kaunggal anggotana. Pon kitu ka mafia anu aya disabudeureuna.
Mung sakitu kereteg kuring sateuacan jumaah. Pamugi.
‪#‎MariBungRebutKembali‬
‪#‎PoéanPERSIB‬
‪#‎PERSIBday‬
‪#‎PERSIBjawara‬
‪#‎JumaahBarokah‬

Cicalengka 07 November 2014

Senin, 03 November 2014

Pancaroba

ti mimiti anjeun eunteup
di sawarga manah
mawa kembang kasatiaan
harita
imut urang duaan
lumampah di buana tengah
ngawanda kaendahan alam
rasa tuluy nyaliara
sukma urang silih keukeupan
beuki raket - beuki pageuh
lir ibarat bulan jeung mata poe ;
satia nyaangan dunya
aya kalana heab narajang
tapi urang pasti ngiuhan
dina hateup kasabaran
tapi kiwari
lain ukur heab
tapi angin milu narajang
ngahiberkeun kirai-kirai
ngeundeuk-ngeundeuk ieu suhunan
anu kungsi diwangun
ku kembang kasatiaan
tur dawuh kaihlasan
aya anu ngalembereh
dina dada kana mata
nalika kasatiaan dipulasara
ku dodoja nu puguh nyata
kuring ukur simpe-pasrah
kanu maparin sagala rasa
sabab satia mangrupakeun dunga
pikeun ngahontal kabagjaan
mugia
anjeun emut kana dawuh

Selasa, 14 Oktober 2014

Panineungan

Peuting ieu hawa karasa tiis, seger. Sabada hujan narajang nyéboran kembang, taneuh, manusa jeung panineungan. Ras inget mangsa nalika sakola SMA. Nalika suhunan anu kungsi dicicingan ku kuring aya kénéh. Da pagigir-gigir pisan jeung imah. Pon kitu Apa masih jumeneng. Harita lamun geus hujan wanci pasosoré, kuring sok ngahaja kaluar. Cicing di buruan. Bari ngopi bari melenyun. Sok betah sabab hawana seger. Kadang Apa ogé kaluar ti imah bari mawa korsi. Milu ngopi. Cacakan jarang ngobrol. Tapi angger karasa waas. Lamun harita ngobrol kaditu kadieu. Resep sigana. Osok ngobrol. Tapi tara lila jeung tara loba. Paling ngeunaan buruan kudu disapuan sangkan beresih. Atawa kenténg oméaneun sabab geus loba anu bocor. Kuring ukur unggeuk. Teu lila Apa kajero deui. Kuring geuwat nyokot nyéré. Prung sasapu. Bari ngopi bari melenyun. Asa ku nikmat ieu hawa. Lamun geus bérés sok tuluy kajero. Nuluykeun ngopina di jero. Anu waas pisan mah nalika sareupna datang. Kadéngé wéh panto imah muka. Kuring sok gura-giru néang sarung. Riweuh! Sabab magrib geus ngagupay. Jadi saacan Apa ngageroan. Kuring kudu geus siap-siap. Lamun can siap Apa osok ngagedoran triplék. Sabab kuring laléda. Atawa ngageroan semu teges. Tuluy nuturkeun Apa ka masigit.
Balik ti masigit sok tuluy ngaderes. Geus bérés mah sok tuluy indit ka barudak. Da kuring mah béda suhunan. Jadi sok léos pleng tara bébéja. Balik-balik biasana jam sapuluh atawa sabelas peuting. Tara ngapalkeun kuring mah. Sabab horéam maca buku pelajaran. Tapi resep tutulisan. Sagala kajadian unggal poé sok ditulis dina "binder" harita mah. PR ogé dikerjakeun mah isukna di Sakola. Asa waas hawa. Bari tutulisan, ngopi, melenyun. Lamun geus tunduh karék ka cai. Isa heula. Héhé. Dug wéh tibra.

Lamun enya bisa.
Jigana rék loba nyarita da. Hayang malahan mah. Ah ieu hawa matak waas. Ngobrol kumaha baheulana, kumaha kagiatana, kumaha kasenang kasusahna. Euleuh rada nyoco ayeuna mah hawa téh!. Antukna mah ukur panineungan.
Hapunten anu kasuhun.

Cicaléngka 14 Oktober 2014

Selasa, 07 Oktober 2014

i'Musisi baheula jeung ayeuna

Jadi kieu mang. Tilu poe ieu kuring mineng ngadengekeun deui lagu nalika taun 1990-2000an mang lah. Nalika kuring keur SD, keur usum radio. atawa MTV gue banget lah ! Harita mah rada ulaheun lalajo MTV ku kolot ; keur dewasa beja mah. Da heueuh kapan harita mah barudak teh mineng diperhatikeun lalajo nanaon teh teu kawas kiwari. Gabres gabres weh dina internet. Maksud teh baheula mah rada ditakar lah. Jadi baheula mah barudak teh ngadengekeun si Chiquita meidy atawa si joshua. Harita mah MTV minangka stasiun anu remen nyiarkeun acara musik. Teu cara kiwari, aya Dahsyat, Inbox, jrrd ; Bari teu paruguh eta teh sabab loba nu ngacapruk ! Gararing deuih mang. Lamun acara Dahsyat atawa Inbox aya di lembur kuring mah dek dirugrugkeun panggungna ku kuring mah. Pembodohan warga eta teh mang. Lain aya kadua dibere modal keur usaha, ieu ngadan dibere duit keur jojogedan teu puguh. Rek kumaha maju bangsa urang mang euy. Geus ah, tuluykeun deui !

Mang sadar teu lagu baheula leuwih napel daripada lagu kiwari ?
Naha sok sababna?

Tiheula nalika jaman malaysia ngajajah industri musik urang. Tah didinya musisi Indonesia nyieunan lagu kacida daria jeung soson-soson pisan mang.
Antukna sukses kaluar tina penjajahan musik malaysia. Justru malik ngajajah musik urang ka Malaysia teh mang.

Baheula keur meujeuhna 'cinta monyet' ; kelas 5-6 SD lah. Loba lagu paporit teh mang. Samodel "Jikustik - Pandangi langit malam ini", "The Rain - Dengar Bisikku", "Sheila on 7 mah geus puguh loba da keur naek tiheula teh", "Cokelat oge kaasup rea", "Flanella - Bila engkau - Aku Bisa", "Laluna - Selepas kau pergi", "Naif - Sarua keur naek harita mah", "Base jam, Wayang, jrrd". Pokona mah waas pisan lah aselina mang euy. Lamun diinget-inget mah da asa ku endah mangsa harita. keur meujeuhna merdika.
Jadi dina segi inovasi musikalitas (Ceuk kuring ieu mah mang) leuwih motekar euy, berwarna lah, renyah lamun ciki mah, atawa rangu lamun kiripik mah.
Eh heueuh PAs-Band jeung Peterpan poho. Dengekeun tiheula lagu-lagu PAS atawa Peterpan. Jigana teh nyarieun lirik eujeung instrument musikna kuat ka arasak, kuat ka lezat mang. Iwan Fals mah ulah ditanya. LEGENDA eta mah, sarua eujeuung SLANK.
Jadi bener weh musisi harita mah leuwih nerap, leuwih karasa, leuwih eces, cekas, jentre lah lamun ceuk kecap anu nembongkeun hal 'jelas' mah. Hehehhe
Jadi kitu mang. Beda jeung musisi-musisi kiwari. Sok wani ngadu kuring mah.
Jujur weh. Kiwari mah orientasina leuwih kana materi jeung popularitas. Jadi musisi kiwari mah mikirna ; nupenting mah udag pasar, dimana ngehits bakal beunghar yeuh !!
Jadi lamun perlu diteuleuman leuwih jero (Edas filsafat lah si amang eta).
Ideologi musisi kiwari mah aanginan, kumaha pasar. Angin wetan, bringgggg ka kulon, angin kaler briiinggg ka kidul.Beda jeung musisi harita ; panceg teh bener. Pepereket kana ideologi musikna hade.

Baheula mah musisi anu hayang rekaman teh kudu miluan heula festival ; anu panghadena, anu pang motekarna, karek bisa dicokot ku pihak label anu dek ngorbitkeun !Jadi tibaheula ge sanajan teu pati moderen teuing. Marikirna ge angger berproses. Teu cara kiwari justru beuki moderen teh musisi ngadan beuki PRAGMATIS !! Asupkeun ka Youtube ge aing mah jadi ! Nyaho aya nu nawaran Rekaman weh. Tah nu kitu mang euy nu mikir pondok teh.
Jadi kiwari mah lain skill atawa kualitas ! Tapi KOMERSILna anu jadi udagan teh. Jadi lain lagu atawa nu nyanyina mang. Tapi popularitas nunyanyina sorangan mang.

Ah ieu mah ceuk kuring weh mang. Anu leuwih resep musisi harita, dari pada ayeuna. Laina ngabandingkeun musisina. "Tapi ideologi bermusikna" Cik atuh ulah ngawewelan ideologi pragmatis de negara Indonesia ! Sangkan industri musik urang bisa ngajul ngawang. Pelis "Tis". haha, apal teu Tis ? PRAGMATIISSSS ahahaha. Tos heula mang ah. Bade nyetel heula Pas Band - Romeo & Juliet.
Oh enya, Tere - BCL salah sawios artis anu dibantuan naek ku Pas Band hehehhee

Bandung 07-September-2014