ayeuna tabuh

Selasa, 28 April 2015

Perempuan Di Titik Nol - Nawal El - Saadawi

Dua hari ini saya menyantap habis "Perempuan Di Titik Nol", Karya Nawal El - Saadawi. Seorang dokter bangsa Mesir. Ia dikenal di seluruh dunia sebagai novelis dan penulis wanita pejuang hak-hak wanita. Ia memulai prakteknya di rumah sakit-rumah sakit di Kairo. Dan terakhir menjadi Direktur Kesehatan Mesir. Ia dibebastugaskan dari jabatannya sebagai direktur setelah diterbitkannya buku nonfiksinya yang pertama: Women and Sex.

Perempuan Di Titik Nol merupakan kisah yang diceritakan dari seorang wanita tahanan yang bernama Firdaus. Berasal dari keluarga yang miskin. Ia harus berjuang menjalani hidup ditengah etika dan adat manusia Arab. Pemunculan-pemunculan kesetaraan gender pada perempuan sangat terasa. Mungkin bisa disebut sebagai gelora. Setiap kita membaca kalimat demi kalimat. Kita dipaksa merasakan jeritan yang diteriakan.

Pada awal-awal cerita. Tergambar betapa tragisnya etika Ayah terhadap anak perempuannya. Betapa ringannya tangan seorang Ayah terhadap anak perempuan. Pun terhadap Istrinya. Mungkin disini saya berani menyimpulkan bahwa ini adalah awal dari gelora feminisme. Dimana kesalahan etika seseorang atau membludaknya amarah seseorang dapat mempengaruhi keinginan si korban amarah untuk didudukkan dalam derajat yang sama.

Lainnya. Kemudian Firdaus pergi mengantarkan pamannya yang hendak ke Kairo. Saat Pamannya telah menaiki kereta. Firdaus meminta agar ia ikut dengan pamannya. Pamannya menanyakan kenapa dia ingin ke Kairo dan segera dijawab bahwa ia ingin sekolah seperti Pamannya. Akan tetapi Pamannya malah mentertawakannya dan mengatakan bahwa El-Azhar hanya untuk kaum pria.

Singkat cerita, Firdaus menikah dengan seorang laki-laki tua kaya raya. Akan tetapi ia merasa tersika kemudian ia pergi dan hidup di jalanan menjadi seorang pekerja seks. Dan berbagai pandangannya tentang hidup dan laki-laki.

Ada paragraf yang menurut saya pembaca harus cermat memikirkan dahulu agar tidak begitu mudah percaya bahwa seorang lelaki - terlebih ayah -  dengan anehnya tidak memberi makan pada anaknya.
"Ayah tak akan pergi tidur tanpa makan malam lebih dulu, apa pun yang terjadi. Kadang-kadang apabila tak ada makanan di rumah, kami semua akan pergi tidur dengan perut kosong. Tetapi dia selalu memperoleh makanan. Ia makan sendirian seadng kami mengamatinya saja. Pada suatu malam saya memberanikan diri untuk mengulurkan tangan ke arah piringnya, tetapi ia memberi sebuah pukulan yang keras pada punggung dan jari-jari saya."

Kadang saya bingung apakah permasalahan feminisme terlahir dari sebab perempuan yang tertekan karena keadaan atau sifat buruk seseorang ?
Sebenarnya saya kurang mengetahui kedudukan perempuan di tanah Arab. Apakah ia dimuliakan atau ia direndahkan. Apakah laki-laki di Arab begitu teganya membiarkan anaknya merapat kelaparan sedang ia menyantap dengan nikmat sendirian?
Tapi jika mengingat kisah tentang Umar Bin Khatab yang pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Artinya apakah pada masa itu begitu hina jika mempunyai anak perempuan? Apa pula yang melandasi itu? Kebodohan kah? Agama? Atau keadaan sosial?
*Namun PADA MASA ITU akhirnya Perempuan dimuliakan setelah "KESELAMATAN" mulai ramai-ramai dijadikan pegangan :)

Paragraf lainnya yang menguatkan "kesetaraan gender" yang perlu kita kaji terlebih dulu yaitu :
"Saya dapat mengetahui bahwa semua yang memerintah adalah laki-laki. Persamaan di antara mereka adalah kerakusan dan kepribadian yang penuh distorsi, nafsu tanpa batas mengumpul duit, mendapatkan seks dan kepuasan tanpa batas. Mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi di bumi, yang merampas rakyat mereka, yang bermulut besar, berkesanggupan untuk membujuk, memilih kata-kata manis, dan menembakkan panah beracun. Karena itu, kebenaran tentang mereka hanya terbuka setelah mereka mati, dan akibatnya saya menemukan bahwa sejarah cenderung mengulangi dirinya dengan kekerasan kepala yang dungu".

Saya sangat kaget membacanya. Begitu kuat kah kebencian kepada laki-laki yang dinilai hanya dari sebagian laki-laki? Atau gelora gender ini mematikan nalar pada pandangan individu?

Tapi inilah "Perempuan Di Titik Nol". Sebuah kritik sosial yang keras dan pedas! Buku yang menguak kebobrokan masyarakat yang didominasi oleh kaum lelaki.

Pesan dari saya jika ingin membaca buku ini.
Kita harus berfikir jernih. Bahwa keadaan sosial dan sifat juga etika, budaya dan kepercayaan. Sangat berbeda dengan keadaan pada negeri kita. Maka dari itu.
DIHEUMHEUM HEULA- ULAH DITEUREUY BULEUD. Bisi kabesekan.
Khususnya bagi pembaca perempuan yang sangat setuju kesetaraan gender dan feminis radikal; Jangan lupa perbaiki kenteng yang bocor :D Biar setara dengan laki-laki :*

Mari ngopi :D

Bandung - 28 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar